Skip to main content

Mereka, pergi !? (Cerpen #4)





 


Mereka pergi !?


Pagi itu uzma dan kawan-kawan nya dikumpulkan di lapangan pesantren untuk mendengarkan beberapa petuah kiyai menjelang liburan, "anak-anakku yang Alloh muliakan dengan perantara Al-Qur'an. Saya hanya mengingatkan kembali beberapa nasehat yang pernah disampaikan, anak-anakku jangan sampai liburan ini membuat kalian semua lalai ya, ingat bantu-bantu orang tua, sebelum mereka menyuruh sesuatu kalian harus cergas, dan jangan lupa muroja'ah karena itu kunci kebahagiaan kalian, baik Qur'an maupun pelajaran, hati-hati di jalan, banyak-banyaklah berdo'a dan berdzikir, sekian semoga kalian semua selalu dijaga Alloh dalam ketaatan, wassalamualaikum warohmatullohi wabarakatu.


Uzma pulang bersama teman-temannya, sesampainya di rumah uzma mencoba menyapa mbah aroh, mbah... mbah ...

Tidak ada sahutan, karena uzma anak yang telah lama ditinggal oleh kedua orang tuannya sejak kecil, jadi dia di rawat dan dibesarkan oleh mbah, paman, dan bibinya.


Kemana ya embah, ha coba ke mang imron, uzma coba memanggil mang .. mang imron ..  tapi mang imron pun tidak ada respon sama sekali, kenapa ya kok pada tidak ada, pada kemna ya ?.. uzma cukup heran, ia berhenti sejenak sambil menghela nafas nya, hfuuuhh.. tidak seperti biasanya nih, oh baiklah aku coba ke bibi nisa mungkin sedang di rumah bersama bibi maida. Bi.. bibi nisaa... Bi nisaa.. bibinyapun tidak ada tanda memberikan respon sama sekali, dicobanya sekali lagi, bibi nisaa... Bii ini uzma baru pulang dari pondok, agak kencang ia memanggil,


Eh malah yang menyahut bibi maida, oh uzma, sini masuk nak, "kenapa kamu triak-triak"  sini masuk kedalam, bagaimna kabarnya sudah lama tidak pulang yaa ? Iya bi, bibi sehat kan ? Iya Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, iya bi saya kesini soalnya tadi di rumah mbah aroh, mang imron, trus juga barusan dari rumah bi nisa, mereka lagi pada keluar semua, seru uzma, oh iya mereka sedang panen hari ini, nanti sore juga pulang, akhirnya mereka larut dalam perbincangan yang tak terasa sudah sejam lamanya. Oh ya bi uzma pamit dulu ya, eh kok buru-buru ? Ini mau beres-beres rumah dulu, trus belum nyuci pakaian juga, oh ya baiklah, nanti kapan sempat main-main lagi ya kesini, iya bi in syaa Alloh.


Uzma beranjak pulang menuju rumah, dimana mbah, mamang, dan rumah bi nisa yang dekat dengan juga dengan rumahnya, di perjalanan pulang uzma bertemu dengan sesama pejalan kaki, seorang yang sudah agak tua hampir seumur mbah aroh sepertinya, uzma mulai menyapa pak ..jalan pulang, eh iya dik, saya mau pulang, akhirnya mereka berbincang saling kenal, bapak fateha namanya, diperjalanan itu uzma diberikan beberapa petuah, nak nanti kalau sampai rumah kamu harus bertekad dengan sekuat tenaga ya akan menjaga hafalan Al-Baqoroh, Al-Imron, An-Nissaa, dan Al-Maidah yang juga hampir kamu lupakan,


"Iya pak fateha, tadi kamu cerita di pondok pernah hafal surat itu dan diperdengarkan didepan teman-temanmu tanpa melihat Mushaf, dan tadi ketika saya mencoba beberapa potongan ayat dari masing-masing surat tersebut, nampaknya kelalaian sedang mengusaimu, iya pak aku menyesali akan kejadian ini, iya dik ini bahaya, karena musibah dunia lebih ringan dari musibah akhirat, dan sekarang akhiratmu sedang kacau, nanti di rumah di ulangi lagi ya dik sampai kuat seperti semula yang kamu ceritakan, "baik pak.

Baiklah dik sampai jumpa lagi ya, salam buat mbah, paman mu ya.


Uzma terdiam dengan kesdihan yang mendalam, semenjak kejadian itu, ia tidak pernah lagi membiarkan dirinya lalai seperti hari kemarin.




Kamis, 14 Jan 2021


Comments

Popular posts from this blog

6 ~Penduduk Langit

                                                                          Sen 14 Des 2020 6 ~Penduduk Langit وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", . . . 172. وَإِذْ أَخَذَ رَ...

Siksaan Atas Kelalaian

        Pengagungan digemakan, kerak tak bisa dibersihkan sesempurna mungkin, masih aja ada sisanya walau sedikit dari kotoran masa lalu dan rasa rasa lainnya. Mungkin paling nyaman mengkondisikan dirilah yang harus lebih utama diperhitungkan, jangan kritisi pihak lain dulu.    Kapal yang kuat akan tetap maju meski kerusakan yang diterima hampir menenggelamkannya, asupan itu rasa sakit, pengkhianatan, diskriminasi dan semacamnya. Tetaplah memaafkan meski sakit, kita ini manusia bukan Pencipta alam semesta.    Anggaplah penyegeraan siksaan yang terasa seperti tak berujung sebagai penghapusan untuk melangkah ke depan agar bisa lebih memaafkan dan tetap terus memaafkan seberat atau se-sesak apa pun hati menghadapinya.    Buah dari kelalaian inilah yang menjadikan rasa sesal itu seolah menyatu dengan jiwa dan raga. Jadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar perubahan untuk lebih baik lagi dalam banyak hal, terutama bersikap ketika tak ada se...

7 ~Bersyukur dibalas nya di dunia

  7  ~Bersyukur dibalas nya di dunia sel 15 des 2020 فَأَذَاقَهُمُ ٱللَّهُ ٱلْخِزْىَ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ ٱلْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ . Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui. . 25-26 Orang-orang sebelum kaummu (wahai rasul) juga telah mendustakan rasul-rasul mereka, lalu azab datang kepada mereka dari arah dimana mereka tidak menyangka bahwa ia akan datang, kemudian Allah membuat umat-umat yang mendustakan itu mencicipi azab dan kehinaan di dunia, dan di akhirat Allah menyediakan siksa yang lebih pedih dan lebih keras. Sekiranya orang-orang musyrik itu mengetahui bahwa apa yang menimpa mereka disebabkan kekafiran dan pendustaan mereka, niscaya mereka akan mengambil pelajaran. 📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia (Referensi: https://tafsirweb.com/8688-quran-surat-az-zumar-ayat-26.html) . Semua pasti pernah salah, sem...