Skip to main content

Jangan sekedar meminta, bersyukurlah #1






 


Wasiat ke12 

Jangan sekedar meminta, bersyukurlah

#1



Pagi-pagi saya sudah bertolak dari Kuta Bali. Dengan sebuah mobil carteran, saya beranjak dan segerak bergerak menuju singaraja-sekitar dua jam dari denpasar. Walau setengah mengantuk, sepasang mata saya masih sempat memindai pemandangan demi pemandangan yang begitu aduhai di sepanjang jalan yang berkelok-kelok, mulai dari danau, sawah, sampai perbukitan. Yah, semesta akan mengamini bahwa bali adalah salah satu pulau termolek di nusantara.


Lusanya-setelah bermalam di jakarta-saya terbang ke balikpapan dan samarinda yang terletak di kalinantan timur-salah satu wilayah terkaya di tanah air. Sayangnya, apa yang saya temukan di dua provinsi tersebut, segelintir masyarakatnya masih saja tidak mensyukuri daerahnya. Padahal, jelas-jelas mereka lebih beruntung darpada daerah-daerah lainnya. 


Di lain tempat, seorang anggota TNI pernah curhat kepada temannya, "Huh, sudah sekian tahun aku mengabdi, tetap saja jadi kapten. Kata atasanku, baru dua tahun lagi aku bisa naik pangkat." 

"Kamu harus bersyukur. Walau bagaimanapun, kamu masih bisa naik pangkat." Hibur temannya yang kebetulan pemain bola. "Lha kalau aku? Dari dulu sampai kapanpun, tetap saja jadi kapten!"


Boleh-boleh saja anda tersenyum. Yang jelas, intinya adalah tentang syukur (gratitude). Inilah satu jenis perasaan yang jarang bersemayam permanen di hati kita. Bahkan, kerap kita lupa dan alpa. Istilah saya, kadarkum. Kadang sadar, kadang kumat. Pendeta sekaligus penulis tentang kepeminpinan yang saya kagumi, jhon maxwell mengingatkan, "talenta adalah karunia, namun karakter adalah pilihan." Artinya, bersyukur atau tidak bersyukur, itu adalah pilihan anda.


Nah, sidang pembaca sekalian, mulai sekarang ketahuilah bahwa sebenarnya anda adalah orang yang sangat beruntung, baik dalam karir maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu amat layak untuk anda syukuri. Saya ulangi lagi, layak untuk anda syukuri. Hm, tidak percaya? Silakan simak alinea-alinea berikutnya. Jika anda mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup badan, atap diatas kepala, dan tempat untuk tidur, maka anda lebih kaya dari 75 persen penduduk dunia! Jika anda mempunyai tabungan di bank dan uang receh di dompet, maka anda lebih kaya dari 92 persen penduduk dunia! Wah, apalagi kalau anda punya deposito dan investasi!


Jika anda tidak pernah mengalami kesengsaraan karena perang, penjara, penyiksaan, atau kelaparan, maka anda lebih beruntung daripada 700juta orang di dunia! Jika anda dapat menghadiri tempat ibadah atau pertemuan religius tanpa takut akan penyerangan, penangkapan, atau kematian, maka anda lebih beruntung daripada lebih dari tiga miliar orang 

Di dunia! Dan jika anda dapat membaca tulisan saya, maka anda lebih beruntung daripada lebih dari ratusan juta orang di dunia yang tidak dapat membaca sama sekali!


Kalaulah setiap permintaan manusia direkam, mungkin diperlukan jutaan CD untuk merekamnya. Untuk bersyukur? Hm, rasa-rasanya, nero burning rom cukup mem-burn satu CD. Memang biasanya manusia cuma pandai meminta kepadanya, pernahkah anda bertemu dengan orang yang selalu merengek meminta ini itu kepada anda dan anda selalu menurutinya, tapi mulutnya terkunci untuk mengucapkan kata terima-kasih kepada anda? Nah, orang yang kagok bersyukur persis seperti itu. Mengesalkan.


"Kita mesti bersyukur bahwa kita masih di beri waktu," lantun Ebiet G. ade. "Fan shi gan jhi," ungkap pepatah cina. Apapun yang terjadi patut disyukuri. Trus syukur dan sukses, adakah kaitannya? Ah jangan ditanya. Erat sekali kaitannya. Anda sudah membaca buku kecil berjudul the scret ? Dipaparkan disana, syukur adalah anak tangga Mutlak untuk mempercepat kesuksesan. Wejangan si pengarang, "bayangkanlah harapan-harapan anda dengan penuh rasa syukur, seakan-akan anda sudah menerimanya. Dengan demikian, anda akan menerimanya segera!" Inilah output dari hukum tarik-menarik yang universal.



13 wasiat terlarang 

Dahsyat dengan otak kanan

Ippho santosa, gramedia jakarta-2008 hlm 90-91






Comments

  1. Masya Allah tulisan yang luar biasa,
    Semangat terus ust barakallahu fik

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang sangat menggugah dan penuh hikmah

    ReplyDelete
  3. Barokallahu fiekum jamiian, makasih ya ud nyempetin baca dimari, 😃🙏🏻

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

6 ~Penduduk Langit

                                                                          Sen 14 Des 2020 6 ~Penduduk Langit وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", . . . 172. وَإِذْ أَخَذَ رَ...

Siksaan Atas Kelalaian

        Pengagungan digemakan, kerak tak bisa dibersihkan sesempurna mungkin, masih aja ada sisanya walau sedikit dari kotoran masa lalu dan rasa rasa lainnya. Mungkin paling nyaman mengkondisikan dirilah yang harus lebih utama diperhitungkan, jangan kritisi pihak lain dulu.    Kapal yang kuat akan tetap maju meski kerusakan yang diterima hampir menenggelamkannya, asupan itu rasa sakit, pengkhianatan, diskriminasi dan semacamnya. Tetaplah memaafkan meski sakit, kita ini manusia bukan Pencipta alam semesta.    Anggaplah penyegeraan siksaan yang terasa seperti tak berujung sebagai penghapusan untuk melangkah ke depan agar bisa lebih memaafkan dan tetap terus memaafkan seberat atau se-sesak apa pun hati menghadapinya.    Buah dari kelalaian inilah yang menjadikan rasa sesal itu seolah menyatu dengan jiwa dan raga. Jadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar perubahan untuk lebih baik lagi dalam banyak hal, terutama bersikap ketika tak ada se...

7 ~Bersyukur dibalas nya di dunia

  7  ~Bersyukur dibalas nya di dunia sel 15 des 2020 فَأَذَاقَهُمُ ٱللَّهُ ٱلْخِزْىَ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ ٱلْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ . Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui. . 25-26 Orang-orang sebelum kaummu (wahai rasul) juga telah mendustakan rasul-rasul mereka, lalu azab datang kepada mereka dari arah dimana mereka tidak menyangka bahwa ia akan datang, kemudian Allah membuat umat-umat yang mendustakan itu mencicipi azab dan kehinaan di dunia, dan di akhirat Allah menyediakan siksa yang lebih pedih dan lebih keras. Sekiranya orang-orang musyrik itu mengetahui bahwa apa yang menimpa mereka disebabkan kekafiran dan pendustaan mereka, niscaya mereka akan mengambil pelajaran. 📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia (Referensi: https://tafsirweb.com/8688-quran-surat-az-zumar-ayat-26.html) . Semua pasti pernah salah, sem...