Skip to main content

Mereka sering kali tidak tahu bahwa ada pilihan lain dalam menjalani kehidupan ini.





 Saat Kepincut dengan Lelaki karena Status Sosialnya, tapi Kandas Begitu Saja



Pasti ada sebagian dari kita yang kepincut dengan seseorang karena status sosialnya. Apakah dia anak pengusaha tajir, anak pejabat, atau pejabat itu sendiri. Bahkan, tak sedikit perempuan yang secara sadar memilih untuk menjadi kekasih pejabat, meski pejabat tersebut sudah menikah.

Saat Kepincut dengan Lelaki karena Status Sosialnya, tapi Kandas Begitu Saja


Jika tidak mendapatkan lelaki seperti itu, mereka jadi uring-uringan karena merasa tidak berharga. Padahal, mengejar lelaki karena status sosialnya justru semakin menurunkan harga diri dan motivasinya terlihat tidak tulus.


Ya gimana, sudah silau duluan dengan status sosialnya sampai menjatuhkan harga diri untuk mengemis cinta bahkan minta dinikahin. Apalagi, jika melibatkan orangtua yang mengidam-idamkan dan menyiapkan anak perempuannya menjadi semacam trophy wife atau istri bak piala agar mendapatkan suami yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi, dan tentunya kaya.


Dalam hal ini, perempuan diberi kesempatan mengenyam pendidikan hanya untuk mendapatkan suami mapan, alih-alih menjadikan perempuan sebagai sosok berdikari, termasuk soal kesejahteraan.


Pola-pola mendidik anak perempuan sebagai trophy wife ini juga dianut oleh keluarga-keluarga borjuis. Pernikahan anak perempuan menjadi semacam transaksi sosial yang dianggap bisa menguntungkan kedua pihak.


Tentunya itu terjadi karena mereka masih menerima nilai-nilai patriarki, yang memposisikan perempuan untuk selalu bergantung pada lelaki. Namun, sebaiknya kita tidak menghakimi mereka karena lingkungannya yang membentuk kondisi tersebut. Mereka sering kali tidak tahu bahwa ada pilihan lain dalam menjalani kehidupan ini.


Seorang tokoh dunia bernama Cher ketika diwawancarai Jane Pauley pada 1996, sempat bercerita bagaimana ibunya menyuruh dia untuk menikah dengan lelaki kaya. Kemudian, Cher membalas, “Bu, saya ini Perempuan kaya. Saya tidak butuh menikah dengan lelaki kaya.”


Lantas, bagaimana kalau ternyata sudah pacaran cukup lama atau bahkan baru sebentar, terus ditinggal bahkan di-ghosting oleh orang yang selama ini dianggap memiliki status sosial lebih tinggi?


Saatnya memulihkan diri, lupakan dia.


Perempuan tak semestinya ngemis-ngemis dan mengejar lelaki karena status sosialnya. Bagaimana kalau memang lelakinya ternyata tidak suka? Masa harus dipaksa? Sudahlah, buang saja fantasi itu. Kamu juga tidak mau kan, kalau dipaksa menikah dengan orang yang tidak lagi kamu sukai?


Gini deh, bukankah lebih baik perempuan sendiri yang meraih status sosialnya dengan hidup mandiri? Apalagi, kalau memang berasal dari keluarga yang cukup memiliki privilese untuk bisa sekolah ke jenjang yang tinggi.


Lagi pula, kandasnya sebuah hubungan – apakah itu sudah terjalin selama bertahun-tahun atau sehari sekalipun – adalah bagian dari kehidupan berelasi. Yang menikah saja bisa cerai, apalagi pacaran? Apa… baru gebetan?


Ghosting sendiri merupakan sebuah istilah; ditinggal tanpa penjelasan, mendiamkan pasangan tanpa sebab, atau bahkan hilang tanpa kabar. Saya pun pernah melakukannya, sebelum menyadari bahwa korban ghosting bisa terjebak dalam lingkaran menyalahkan diri sendiri. Sebab itu, segera lupakan dan pulihkan diri.


Ayolah, kita adalah manusia-manusia berdaya. Perempuan yang berdaya untuk pulih, atau bahasa kekiniannya healing. Perempuan yang mampu menghadapi kesedihan, tak melulu menuntut lelaki untuk ‘bertanggung jawab’ atas kesedihan itu. Sudah terlalu lama kita berada dalam bayang-bayang patriarki yang menempatkan perempuan untuk selalu bergantung pada lelaki.


Beda hal kalau sudah menikah, lalu di-ghosting. Atau, ketika dimanipulasi dan dieksploitasi secara seksual dengan janji nikah, apalagi kalau menyebabkan kehamilan tidak direncanakan akibat eksploitasi seksual. Kita bisa menuntut nafkah untuk anak atau melaporkannya ke polisi, jika ia melakukan kekerasan seksual.


Sudah saatnya menjadi perempuan berdaya yang tidak menggantungkan masa depan pada lelaki, termasuk mereka yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi. Perempuan harus berani menghadapi kesedihan, sebab hidup ini hanya serangkaian pertemuan dan perpisahan.


____________________

Fira Bas


Seorang feminis yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi dan penulis lepas. Mendokumentasikan kehidupannya di www.deasafira.com.


Comments

Popular posts from this blog

6 ~Penduduk Langit

                                                                          Sen 14 Des 2020 6 ~Penduduk Langit وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", . . . 172. وَإِذْ أَخَذَ رَ...

Siksaan Atas Kelalaian

        Pengagungan digemakan, kerak tak bisa dibersihkan sesempurna mungkin, masih aja ada sisanya walau sedikit dari kotoran masa lalu dan rasa rasa lainnya. Mungkin paling nyaman mengkondisikan dirilah yang harus lebih utama diperhitungkan, jangan kritisi pihak lain dulu.    Kapal yang kuat akan tetap maju meski kerusakan yang diterima hampir menenggelamkannya, asupan itu rasa sakit, pengkhianatan, diskriminasi dan semacamnya. Tetaplah memaafkan meski sakit, kita ini manusia bukan Pencipta alam semesta.    Anggaplah penyegeraan siksaan yang terasa seperti tak berujung sebagai penghapusan untuk melangkah ke depan agar bisa lebih memaafkan dan tetap terus memaafkan seberat atau se-sesak apa pun hati menghadapinya.    Buah dari kelalaian inilah yang menjadikan rasa sesal itu seolah menyatu dengan jiwa dan raga. Jadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar perubahan untuk lebih baik lagi dalam banyak hal, terutama bersikap ketika tak ada se...

7 ~Bersyukur dibalas nya di dunia

  7  ~Bersyukur dibalas nya di dunia sel 15 des 2020 فَأَذَاقَهُمُ ٱللَّهُ ٱلْخِزْىَ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ ٱلْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ . Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui. . 25-26 Orang-orang sebelum kaummu (wahai rasul) juga telah mendustakan rasul-rasul mereka, lalu azab datang kepada mereka dari arah dimana mereka tidak menyangka bahwa ia akan datang, kemudian Allah membuat umat-umat yang mendustakan itu mencicipi azab dan kehinaan di dunia, dan di akhirat Allah menyediakan siksa yang lebih pedih dan lebih keras. Sekiranya orang-orang musyrik itu mengetahui bahwa apa yang menimpa mereka disebabkan kekafiran dan pendustaan mereka, niscaya mereka akan mengambil pelajaran. 📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia (Referensi: https://tafsirweb.com/8688-quran-surat-az-zumar-ayat-26.html) . Semua pasti pernah salah, sem...